Jadi Karyawan atau Pengusaha?


Haaii sobat Business Administration,
Kali ini saya ingin membahas sedikit tentang pilihan hidup. Oh ya..sebelum lanjut saya mau mengatakan sesuatu nih. Jadi di blog ini saya tidak ingin sekedar sharing tentang mata kuliah saja. Tetapi,nantinya saya juga ingin menuliskan banyak hal tentang pengembangan diri, opini saya bahkan mungkin cerita pribadi yang bermanfaat,dll. Kebetulan saya memiliki hobby menulis dari kecil,tetapi baru kali ini ingin dipublikasikan hehe.  Saya harap, dengan adanya blog ini bisa bermanfaat buat semua yang membaca dan mohon maaf yaa jika masih banyak kekurangan,namanya juga masih belajar hhe. Happy Reading guys..

Ini adalah topik diskusi saat mata kuliah self development waktu semester 1 tentang pilihan berkarir.
Sebagai seorang manusia, tentu kita memiliki banyak kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan, dan papan, baik yang termasuk kategori primer, sekunder, atau bahkan kategori tersier. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut pasti pakai uang, bukan pakai daun yang terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, yang tenggelam dalam lautan luka dalam, eh kok jadi macam judul lagu ya, hhehe
Untuk mendapatkan uang tersebut tentu kita harus punya pekerjaan,dengan kata lain kita harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang tersebut, sebab uang tidak akan datang kalau kita hanya duduk santai sambil nonton gosip artis yang pernah ada habis-habisnya.

Nah aku sendiri mengelompokkan pekerjaan ini menjadi dua, yaitu karyawan dan pengusaha. Mayoritas kita sebagai warga Indonesia justru memilih menjadi seorang karyawan, entah itu menjadi karyawan di kampung sendiri atau menjadi karyawan negara lain. dan hanya sedikit yang memiliki impian menjadi seorang pengusaha.

Menurut Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengatakan, bahwa jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,65 persen dari jumlah penduduk saat ini. “Kita kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga. Misalnya Singapura sebesar tujuh persen, Malaysia lima persen, dan Thailand empat persen,” kata Puspayoga dalam acara   “Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri”, Kamis (12/3). Ia berpendapat, jika jumlah pengusaha bisa bertambah maka akan turut mendongkrak ekonomi negara, bertambahnya lapangan pekerjaan, dan akhirnya meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi ia juga mengharap agar pengusaha mau membangun usahanya di sejumlah daerah di Indonesia, dan tidak berfokus hanya pada kota-kota besar saja.

Dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa daftar pengusaha di Indonesia masih sangat minim sekali. Berada pada zona nyaman sebagai seorang karyawan dengan gaji tetap sepertinya masih menjadi magnet yang kuat bagi masyarakat kita. Rasa takut gagal dan tidak berani menerima resiko selaku momok menakutkan bagi kita untuk memulai sebuah usaha. Jalan yang terjal dan penuh liku-liku tentu sudah menanti di depan jika seseorang telah memantapkan diri untuk menjadi seorang pengusaha. Oleh karena itu seorang pengusaha diharuskan memiliki tekad baja, pantang menyerah, dan terus evaluasi diri agar hambatan-hambatan  yang menghadang dapat diatasi.

Aku pernah membaca buku  biografi seorang Bob Sadino. Bagaimana kerja keras Bob Sadino dulu saat memulai usahanya sebagai penjual telur ayam, beliau berkeliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan telur ayam dagangannya kepada warga. Ia juga sempat menjadi supir taksi gelap, bahkan pernah jadi kuli bangunan. Berkat kerja keras dan semangat pantang menyerahnya alhasil sekarang beliau telah memiliki perusahaan bernama KemChick yang telah memiliki dua gerai di daerah Jakarta dan telah memiliki karyawan mancapai 500 orang.

Menjadi seorang karyawan atau pegawai juga tidak ada salahnya. Tapi  seorang pegawai tentu harus siap dan tunduk dengan segala peraturan yang telah ditetapkan oleh si pemilik usaha. Seperti wajib datang pagi dan pulang malam hari, memakai seragam atau kemeja setiap hari, harus bersedia lembur, dan mesti tunduk dengan semua perintah atasan kita, dan terkadang hal-hal itu membuat kita depresi, tidak semangat dalam bekerja,  sehingga kerjaan menjadi terbengkalai dan ujung-ujungnya dimarahi lagi sama atasan, begitulah seterusnya sampai semua tukang bubur naik haji, hhehe.

Jika hati sudah mulai tidak nyaman dengan keadaan tersebut mungkin sudah saatnya kita mulai berpikir untuk memulai usaha sendiri. Sepertinya kita memang tidak cocok kerja di air, eh maksudnya tidak cocok jadi pegawai, tiba-tiba saja aku jadi teringat iklan ramalan yang sempat booming beberapa tahun lalu, hhehe
Tapi jika kita memang merasa santai saja dengan kondisi tersebut, berarti kita memang cocoknya kerja di air, eh maksudnya kerja sebagai pegawai. Hhehe. Kita harus bekerja dengan penuh semangat, jangan malas-malasan, jangan cuma makan gaji buta saja, hhehe.
Jadi mau jadi karyawan atau pengusaha?
kalau aku maunya jadi pengusaha yang punya banyak karyawan,hehe. Aamiiin

_KDS _Selftalk_Selfnote


Postingan populer dari blog ini

Microsoft Outlook